Selasa, 01 November 2011

Adat provinsi Bali


Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya. Dalam makalah ini kami membahas tentang "ADAT BALI".
Makalah ini berisikan tentang kebudayaan masyarakat Bali yang lebih khususnya membahas tentang adat istiadat, upacara-upacara kelahiran dan kematian, dll. Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang Kebudayaan masyaraka Bali.
Kami menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan Makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan Makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.


Depok, 14 Oktober 2011



Penyusun




Daftar Isi

Kata Pengantar        ………………………………………………………………….……2
Daftar Isi                  ………..………………………………………………………..…….3
Bab 1 :
1.      Profil Propinsi Bali              …………………………………………………..…...4
2.      Arti Lambang          ………………………………………………………..……...4
3.      Batas Wilayah Bali             ……………………………………………...………..6
4.      Sejarah Bali             ……………………………………………………………….7
Bab 2 :
1.      Bahasa Bali     ……...……………………………………………………..…………9
2.      Adat Istiadat   …………………………………………..…………………………...9
3.      Upacara Keagamaan   ……………………………….……………………………..18
Bab 3 :
Kaitan dengan psikologi         ……..…………………………………………………….....25
Kaitan dengan Antropologi    ……………………………………………………………...25
Lampiran         …………………………………………..………………………………….26




Bab I
1. Profil Propinsi Bali 



Nama Provinsi  : Bali
Diresmikan : 14 Agustus 1959
Ibukota Provinsi : Denpasar
Koordinat 9º 0' - 7º 50' LS s/d 114º 0' - 116º 0' BT
Luas : 5.634 km2
Populasi(2010) : 3.891.428
Kepadatan : 690,7/km²
Suku : Bali (89%), Jawa (7%),Baliaga (1%), Madura (1%)
Agama : Hindu (92,3%), Islam (5,7%), Lainnya (2%)
Bahasa : Bahasa Bali, Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa,Bahasa Sasak, Bahasa Madura
Lagu Daerah : Bali Jagaddhita
Provinsi ke-21


I. ArtiLambang
Lambang Daerah Provinsi Bali berbentuk segilima dengan warna dasar biru tua dengan garis pinggir putih.
Tulisan : BALI DWIPA JAYA, artinya : Jayalah Pulau Bali.

Di dalam segi lima itu terdapat lukisan-lukisan yang merupakan unsur-unsur lambang sebagai berikut:
1.         BintangKuningEmas.
Bintang Kuning Emas bersegi lima melambangkan Ketuhanan Yang MahaEsa.
2.     Candi.
Candi itu adalah Candi Pahlawan Margarana di Klaci Desa Marga (Tabanan).Candi ini menggambarkan jiwa kepahlawanan rakyat Bali khususnya dan rakyat Indonesia umumnya.
3.     CandiBentar.
Candi Bentar  yang artistik merupakan lambang keagamaan yang agung dari rakyat Bali.
4.     Rantai.
Rantai melintang dari kiri kekanan melambangkan Persatuan (GotongRoyong).
5.     Kipas.
Kipas melambangkan kesenian/kebudayaan Daerah Bali.
6.     BungaTeratai.
Bunga Teratai merah adalah lambang dari Singgasana Siwa.
7.     PadidanKapas.
Padi dan Kapas melambangkan kemakmuran.

II. KetentuanWarna
Dasarlambangbirutua          : Bintang, Candi, Candi Bentar, Pinggir padi dan Kapas, serta Kipas dengan warna kuning emas.
Rantai, Padma, dan Boma dengan warna merah tua.
Dasar tulisan, bunga kapas, buah padi, sekeliling lambang dengan warna putih.
Tulisan BALI  DWIPA JAYA dengan warna biru tua.

III. Arti Warna
Warna dasar biru tua mengandung arti toleransi.
Warna kuning emas mengandung arti luhur/agung.
Warna merah mengandung arti keperwiraan.
Warna Putih mengandung arti suci.


1. Batas wilayah Bali
Utara                    =  Laut Bali
Selatan                 =  Samudera Indonesia
Barat                    =  Propinsi Jawa Timur
Timur                   =  Propinsi Nusa TenggaraBarat
Secara administrasi, Propinsi Bali terbagi menjadi 8 kabupaten dan satu kota, yaitu Kabupaten Jembrana, Tabanan, Badung, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Bangli, Buleleng, dan Kota Denpasar yang juga merupakan ibukota propinsi. Selain Pulau Bali Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau kecil lainnya, yaitu Pulau Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan  di wilayah Kabupaten Klungkung, Pulau Serangan di wilayah Kota Denpasar, dan Pulau Menjangan di Kabupaten Buleleng. 




1. Sejarah Bali

Penghuni pertama pulau Bali diperkirakan datang pada 3000-2500 SM yang bermigrasi dari Asia.Peninggalan peralatan batu dari masa tersebut ditemukan di desa Cekik yang terletak di bagian barat pulau.Zaman prasejarah kemudian berakhir dengan datangnya ajaran Hindu dan tulisan Sansekerta dari India pada 100 SM.
Kebudayaan Bali kemudian mendapat pengaruh kuat kebudayaan India, yang prosesnya semakin cepat setelah abad ke-1 Masehi. Nama Balidwipa (pulau Bali) mulai ditemukan di berbagai prasasti, diantaranya Prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada 913 M dan menyebutkan kata Walidwipa. Diperkirakan sekitar masa inilah sistem irigasi subak untuk penanaman padi mulai dikembangkan. Beberapa tradisi keagamaan dan budaya juga mulai berkembang pada masa itu. Kerajaan Majapahit (1293–1500 AD) yang beragama Hindu dan berpusat di pulau Jawa, pernah mendirikan kerajaan bawahan di Bali sekitar tahun 1343 M. Saat itu hampir seluruh nusantara beragama Hindu, namun seiring datangnya Islam berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di nusantara yang antara lain menyebabkan keruntuhan Majapahit. Banyak bangsawan, pendeta, artis, dan masyarakat Hindu lainnya yang ketika itu menyingkir dari Pulau Jawa ke Bali.
Orang Eropa yang pertama kali menemukan Bali ialah Cornelis de Houtman dari Belanda pada 1597, meskipun sebuah kapal Portugis sebelumnya pernah terdampar dekat tanjung Bukit, Jimbaran, pada 1585. Belanda lewat VOC pun mulai melaksanakan penjajahannya di tanah Bali, akan tetapi terus mendapat perlawanan sehingga sampai akhir kekuasaannya posisi mereka di Bali tidaklah sekokoh posisi mereka di Jawa atau Maluku. Bermula dari wilayah utara Bali, semenjak 1840-an kehadiran Belanda telah menjadi permanen, yang awalnya dilakukan dengan mengadu-domba berbagai penguasa Bali yang saling tidak mempercayai satu sama lain. Belanda melakukan serangan besar lewat laut dan darat terhadap daerah Sanur, dan disusul dengan daerah Denpasar. Pihak Bali yang kalah dalam jumlah maupun persenjataan tidak ingin mengalami malu karena menyerah, sehingga menyebabkan terjadinya perang sampai mati atau puputan, yang melibatkan seluruh rakyat baik pria maupun wanita termasuk rajanya. Diperkirakan sebanyak 4.000 orang tewas dalam peristiwa tersebut, meskipun Belanda telah memerintahkan mereka untuk menyerah. Selanjutnya, para gubernur Belanda yang memerintah hanya sedikit saja memberikan pengaruhnya di pulau ini, sehingga pengendalian lokal terhadap agama dan budaya umumnya tidak berubah. Jepang menduduki Bali selama Perang Dunia II, dan saat itu seorang perwira militer bernama I Gusti Ngurah Rai membentuk pasukan Bali ‘pejuang kemerdekaan’. Menyusul menyerahnya Jepang di Pasifik pada bulan Agustus 1945, Belanda segera kembali ke Indonesia (termasuk Bali) untuk menegakkan kembali pemerintahan kolonialnya layaknya keadaan sebelum perang. Hal ini ditentang oleh pasukan perlawanan Bali yang saat itu menggunakan senjata Jepang.
Pada 20 November 1940, pecahlah pertempuran Puputan Margarana yang terjadi di desa Marga, Kabupaten Tabanan, Bali tengah. Kolonel I Gusti Ngurah Rai, yang berusia 29 tahun, memimpin tentaranya dari wilayah timur Bali untuk melakukan serangan sampai mati pada pasukan Belanda yang bersenjata lengkap. Seluruh anggota batalion Bali tersebut tewas semuanya, dan menjadikannya sebagai perlawanan militer Bali yang terakhir.
Pada tahun 1946 Belanda menjadikan Bali sebagai salah satu dari 13 wilayah bagian dari Negara Indonesia Timur yang baru diproklamasikan, yaitu sebagai salah satu negara saingan bagi Republik Indonesia yang diproklamasikan dan dikepalai oleh Sukarno dan Hatta. Bali kemudian juga dimasukkan ke dalam Republik Indonesia Serikat ketika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 29 Desember 1949. Tahun 1950, secara resmi Bali meninggalkan perserikatannya dengan Belanda dan secara hukum menjadi sebuah propinsi dari Republik Indonesia. Letusan Gunung Agung yang terjadi di tahun 1963, sempat mengguncangkan perekonomian rakyat dan menyebabkan banyak penduduk Bali bertransmigrasi ke berbagai wilayah lain di Indonesia.
Tahun 1965, seiring dengan gagalnya kudeta oleh G30S terhadap pemerintah nasional di Jakarta, di Bali dan banyak daerah lainnya terjadilah penumpasan terhadap anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia. Di Bali, diperkirakan lebih dari 100.000 orang terbunuh atau hilang. Meskipun demikian, kejadian-kejadian di masa awal Orde Baru tersebut sampai dengan saat ini belum berhasil diungkapkan secara hukum Serangan teroris telah terjadi pada 12 Oktober 2002, berupa serangan Bom Bali 2002 di kawasan pariwisata Pantai Kuta, menyebabkan sebanyak 202 orang tewas dan 209 orang lainnya cedera. Serangan Bom Bali 2005 juga terjadi tiga tahun kemudian di Kuta dan pantai Jimbaran. Kejadian-kejadian tersebut mendapat liputan internasional yang luas karena sebagian besar korbannya adalah wisatawan asing, dan menyebabkan industri pariwisata Bali menghadapi tantangan berat beberapa tahun terakhir ini.





Bab II


1. Bahasa Bali
                Selain dari sektor pariwisata, penduduk Bali juga hidup dari pertanian dan perikanan. Sebagian juga memilih menjadi seniman. Bahasa yang digunakan di Bali adalah Bahasa Indonesia, Bali dan Inggris khususnya bagi yang bekerja di sektor pariwisata. Bahasa Bali dan Bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling luas pemakaiannya di Bali dan sebagaimana penduduk Indonesia lainnya, sebagian besar masyarakat Bali adalah bilingual atau bahkan trilingual. Meskipun terdapat beberapa dialek dalam bahasa Bali, umumnya masyarakat Bali menggunakan sebentuk bahasa Bali pergaulan sebagai pilihan dalam berkomunikasi. Secara tradisi, penggunaan berbagai dialek bahasa Bali ditentukan berdasarkan sistem catur warna dalam agama Hindu Dharma dan keanggotan klan, meskipun pelaksanaan tradisi tersebut cenderung berkurang. Bahasa Inggris adalah bahasa ketiga (dan bahasa asing utama) bagi banyak masyarakat Bali yang dipengaruhi oleh kebutuhan yang besar dari industri pariwisata. Para karyawan yang bekerja pada pusat-pusat informasi wisatawan di Bali, sering kali juga memahami beberapa bahasa asing dengan kompetensi yang cukup memadai.
       II.            

    Adat Istiadat

    a. Catur Warna (Pengelompokan Masyarakat)
    Di    Bali berlaku sistem Catur Varna (Warna), yang mana kata Catur Warna berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri dari kata Catur berarti empat dan kata warnayang berasal dari urat kata Wr (baca: wri) artinya memilih. Catur Warna berarti empat pilihan hidup atau empat pembagian dalam kehidupan berdasarkan atas bakat (guna) dan ketrampilan (karma) seseorang, serta kualitas kerja yang dimiliki sebagai akibat pendidikan, pengembangan bakat yang tumbuh dari dalam dirinya dan ditopang oleh ketangguhan mentalnya dalam menghadapi suatu pekerjaan. Empat golongan yang kemudian terkenal dengan istilah Catur Warna itu ialah: Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra.

    Warna Brahmana: Disimbulkan dengan warna putih, adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdian dalam swadharmanya di bidang kerohanian keagamaan.

    Warna Ksatrya: Disimbulkan dengan warna merah adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdian dalam swadharmanya di bidang kepemimpinan, keperwiraan dan pertahanan keamanan negara.

    Warna Waisya: Disimbulkan dengan warna kuning adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdiannya di bidang kesejahteraan masyarakat (perekonomian, perindustrian, dan lain- lain).

    Warna Sudra: Disimbulkan dengan warna hitam adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdiannya di bidang ketenagakerjaan.

    Dalam perjalanan kehidupan di masyarakat dari masa ke masa pelaksanaan sistem Catur Warna cenderung membaur mengarah kepada sistem yang tertutup yang disebut Catur Wangsa atau Turunan darah. Padahal Catur Warna menunjukkan pengertian golongan fungsional, sedangkan Catur Wangsa menunjukkan Turunan darah.


    a. Rumah Adat

     
    Rumah Bali yang sesuai dengan aturan Asta Kosala Kosali (bagian Weda yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan, layaknya Feng Shui dalam Budaya China). Rumah adat Bali dinamakan Gapura Candi Bentar.
    Menurut filosofi masyarakat Bali, kedinamisan dalam hidup akan tercapai apabila terwujudnya hubungan yang harmonis antara aspek pawongan (harmoni dengan manusia), palemahan (harmoni dengan alam) dan parahyangan (harmoni dengan tuhan). Untuk itu pembangunan sebuah rumah harus meliputi aspek-aspek tersebut atau yang biasa disebut Tri Hita Karana. Pawongan merupakan para penghuni rumah. Palemahan berarti harus ada hubungan yang baik antara penghuni rumah dan lingkungannya.
    Pada umumnya bangunan atau arsitektur tradisional daerah Bali selalu dipenuhi hiasan, berupa ukiran, peralatan serta pemberian warna. Ragam hias tersebut mengandung arti tertentu sebagai ungkapan keindahan simbol-simbol dan penyampaian komunikasi. Bentuk-bentuk ragam hias dari jenis fauna juga berfungsi sebagai simbol-simbol ritual yang ditampilkan dalam patung.

    Fungsi bangunan rumah adat Bali :
    Jabo Depan     : Bangunan candi Bentor lambang budaya Bali.
    Jabo Tengah    : à bangunan Balewantilan, fungsinya untuk tempat aktifitas sosial/pesta.
    è Sanggah penunggu Parang, untuk tempat persembahan sesaji untuk Banas Pati Raja / Dewa Sanesha (untuk penolak bala).
    Balai Paruman : bangunan untuk tempat rapat keluarga dan menyiapkan sesaji.
    Ruang Jeroan  : bangunan yang terdapat ruangan-ruangan yang terdiri dri stu kesatuan.
    è Kuri Agung : pintu yang terletak ditengah dan besar, fungsinya untuk tempat keluar masuknya suatu acara keagamaan.
    è Kuri Bebetelan : pintu kecil yang terletak disamping kanan-kiri Kuri Agung fungsinya untuk keluar masuknya pengunjung umum.
    è Balai Aling-aling, untuk membaca dan menulis kitab suci Wedha. Dibalai ini terdapat patung yang menggambarkan penduduk Bali asli.

    Balai Pawaregan         : Tempat untuk memasak serta tempat makan.
    Balai Ranggi               : Tempat untuk menyimpan perlengkapan upacara.
    Balai Gedong              : Tempat tidur gadis yang belum menikah dan untuk menyekep (sebelum menikah) dan sekaligus tempat menyimpan barang-barang berharga seperti emas,dll.
    Balai Dauh                  : Tempat Tidur laki-laki yang belum menikah dan untuk tempat aktifitas keluarga.
    Balai Loji                    : Tempat khusus untuk para tamu menginap.
    Balai Jineng                 : Tempat menyimpan hasil panen dan peralatan menyawah.
    Mrajan                         : Tempat pemujaan kepada dewa gede, kegiatan ini dilakukan sebelum melakukan aktifitas sehari-hari.

    a.     Tarian:
    ·         Tari Pendet
    pada awalnya merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura. Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Pendet menjadi "ucapan selamat datang", meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius.

                     Kontroversi Pendet 2009
    Tari pendet menjadi sorotan media Indonesia karena tampil dalam program televisi Enigmatic Malaysia Discovery Channel. Menurut pemerintah Malaysia, mereka tidak bertanggung jawab atas iklan tersebut karena dibuat oleh Discovery Channel Singapura, kemudian Discovery TV melayangkan surat permohonan maaf kepada kedua negara, dan menyatakan bahwa jaringan televisi itu bertanggung jawab penuh atas penayangan iklan program tersebut. Meskipun demikian, insiden penayangan pendet dalam program televisi mengenai Malaysia ini sempat memicu sentimen Anti-Malaysia di Indonesia.

    • Kecak

    Kecak adalah pertunjukan seni khas Bali yang diciptakan pada tahun 1930-an dan dimainkan terutama oleh laki-laki. Tarian ini dipertunjukkan oleh banyak (puluhan atau lebih) penari laki-laki yang duduk berbaris melingkar dan dengan irama tertentu menyerukan "cak" dan mengangkat kedua lengan







    Senjata Adat Bali:
    ·         Keris
    Keris ada senjata tikam golongan belati (berujung runcing dan tajam pada kedua sisinya) dengan banyak fungsi budaya yang dikenal di kawasan Nusantara bagian barat dan tengah. Keris Indonesia telah terdaftar di UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia Non-Bendawi Manusia sejak 2005.

    • Tombak atau Lembing
    Tombak atau lembing adalah senjata untuk berburu dan berperang, Terdapat sejenis tombak tanpa mata yang sering digunakan oleh milisia di nusantara yaitu bambu runcing yang dibuat dari bambu yang diruncingkan tanpa perkuatan apapun di ujungnya.


    Alat Musik:
    ·         Gamelan
    Gamelan adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Orkes gamelan kebanyakan terdapat di pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok di Indonesia dalam berbagai jenis ukuran dan bentuk ensembel. Di Bali dan Lombok saat ini, dan di Jawa lewat abad ke-18, istilah gong lebih dianggap sinonim dengan gamelan. Dalam mitologi Jawa, gamelan dicipatakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka, dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa, dengan istana di gunung Mahendra di Medangkamulan (sekarang Gunung Lawu). Sang Hyang Guru pertama-tama menciptakan gong untuk memanggil para dewa. Untuk pesan yang lebih spesifik kemudian menciptakan dua gong, lalu akhirnya terbentuk set gamelan


    Makanan khas Bali:
    • AyamBetutu

    Ayam Betutu adalah lauk yang terbuat dari ayam atau bebek yang utuh yang berisi bumbu, kemudian dipanggang dalam api sekam. Betutu ini telah dikenal di seluruh kabupaten di Bali. Salah satu produsen betutu adalah desa Melinggih, kecamatam payangan kabupaten Gianyar. Betutu digunakan sebagai sajian pada upacara keagamaan dan upacara adat serta sebagai hidangan dan di jual.

    • Lawar
    Lawaradalah makanan tradisional Bali berupa campuran sayur-sayuran dan daging cincang yang dibumbui .Makanan ini digunakan sebagai sajian dan hidangan, serta telah dijual secara luas di rumah-rumah makan dengan merek lawar Bali.


    PERKAWINAN


    a. SistemPerkawinan
    Perkawinan (ngerorod) artinya mempertsatukan 2 insan/pemuda-pemudi menjadi satu ikatan baik lahir maupun batin. Secara adat agama Hindu perkawinan dilaksanakan dengan memakai sesaji/banten.


    JENIS-JENIS PERKAWINAN SECARA AGAMA HINDU


    1. Meminang atau meminta
    2. Kawin lari
    3. Mekidih
    4. Mejangkepan (dijodohkan)

    Yang dimaksud:
    ->Meminang atau meminta adalah meminta seorang gadis yang dilakukan oleh seorang pria kekeluarga pihak perempuan.
    ->Kawin lari adalah kawin yang dilakukan secara adat, yang tidak disetujui oleh pihak keluarga perempuan.
    ->Kawin Mekidih adalah seorang perempuan yang meminang seorang laki-laki menjadi suaminya, karena seorang perempuan itu tidak mempunya saudara laki-laki.
    ->Mejangkepan (dijodohkan) adalah perkawinan yang dilaksanakan dengan persetujuan kedua belah pihak, orang tua, walaupun keduanya tidak saling mencintai.



    Susunan acara perkawinan Bali :

    · Mamade : berdasarkan cinta sama cinta. Disetujui oleh kedua keluarga mempelai. Pihak laki-laki meminang wanita dengan membawa oleh-oleh yang berupa kapur sirih dan sejumlah uang kejujuran (hasil keringatsendiri). Proses upacaranya dirumah mempelai laki-laki karena menganut system patrinial (laki-laki pemimpin keluarga).
    · Ngerorod : berdasarkan cinta sama cinta tapi tidak disetujui oleh keluarga kedua belah pihak, karena beberapa faktor. Perkawinan yang memakai surat pernyataan dari kedua belah pihak bahwa kedua pasangan tersebut siap menjalani perkawinan, surat tersebut dibawa kekelurahan.
    · Wejangkepan :berdasarkan paksaan/harus saling mencinta. Maksud dan tujuan untuk mempererat tali persaudaraan antara keluarga kedua belah pihak. Tempat penyelenggara proses perkawinannya di kediaman pihak laki-laki.


    Proses upacara perkawinan pihak wanita:
    1) Melakukan mebiukalanya itu suatu upacara pembersihan lahir batin oleh kedua mempelai yang dipimpin oleh pemandu, biasanya menyesuaikan dengan adat budaya setempat.
    2) Mandi bersama kesungai.
    3) Melakukan upacara Widiwedane dipimpin oleh pendeta, saksinya adalah tuhan dan masyarakat

         

    I. Upacara Keagamaan

    Biasanya orang Bali sembahyang 3x sehari pada waktu pagi, siang, dan sore.

    Pagi : Jam 06.00 (setelah matahari terbit)
    Siang : Jam 12.00 (pas matahari diatas kepala)
    Sore : Jam 18.00 (setelah terbenamnya matahari)

    Adapun sarana persembahyangannya yaitu :


    Bunga / canang, Dupa, Tirtha sebagai air suci, Bije, biasa kita kenal dengan beras


    Pakaian sembahyang untuk wanita antara lain kebaya,kain,dan selendang
    Untuk laki-laki antara lain baju putih, kain, dan udeng (buat kepala).



    HARI RAYA YANG ADA DI AGAMA HINDU :
    Hari Raya Berdasarkan Wewaran
    • Galungan — Jatuh pada: Buda, Kliwon, Dungulan
    • Kuningan — Jatuh pada: Saniscara, Kliwon, Kuningan
    • Saraswati — Jatuh pada: Saniscara, Umanis, Watugunung. Hari Ilmu Pengetahuan, pemujaan pada Sang Hyang Aji Saraswati.
    • Banyupinaruh — Jatuh pada: Redite, Pahing, Shinta
    • Pagerwesi

    Hari Raya Berdasarkan Kalender Saka
    1. Siwaratri
    2. Nyepi


    ·         HARI RAYA NYEPI
    è Sebelum Nyepi dilakukan upacara Melasti yang membersihkan peralatan untuk disucikan dan memohon air Tirtha, Kamendalu (air suci kehidupan) biasanya kita jumpai di laut.
    è Setelah Melasti dilakukan upacara Tawur Agung Kesange dilakukan diperempatan desa (jalan) tujuannya untuk menetralisir makro dan mikro.
    è Sehabis Tawur Agung Kesange baru dilaksanakan upacara Ngerupuk dengan cara menyalakan api, membunyikan alat-alat music, dan mengusir setan-setan ketempatnya serta mengarak ogoh-ogoh dan malamnya kita melakukan puasa 24 jam full.
    è Hari Raya Nyepi, Nyepi adalah merupakan tahun baru Saca yang dilakukan setiap setahun sekali.


                Umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian :
    Ø  Amati Geni                  = Tidak menyalakan apia tau lampu.
    Ø  Amati Karya                = Tidak melakukan aktivitas (tidak berpergian).
    Ø  Amati Lelanguan         = Tidak menghibur diri.
    Ø  Amati Lelungan           = Tidak berpergian


    Ada beberapa upacara keagamaaan di agama Hindu

    · Setiap 1 tahun sekali : Nyepi, Silawatri.
    · Setiap 6 bulan sekali : Galungan, Kuningan, Pagerwesi, Tumpek, Saraswati.
    · Setiap 15 hari sekali : Hari purnama (bulan hidup) : bulan yang terbit sehabis matahari terbenam. Hari tilem (bulan mati) : bulan yang tidak bersinar/gelap gulita.


    Upacara keagamaan yang dilakukan dalam Agama Hindu Dharma, berkolaborasi dengan budaya lokal. Ini menjadi kekayaan dan keunikan yang hanya ditemukan di Bali. Beberapa macam upacara keagamaan yang ada di bali dapat di jelaskan sebagai berikut :
    a) Manusa Yadnya (kelahiran)
    Manusa yadnya adalah korban suci yang bertujuan untuk memelihara hidup dan membersihkan lahir batin manusia mulai dari sejak terwujudnya jasmani di dalam kandungan sampai pada akhir hidup manusia itu. Pembersihan lahir batin manusia sangat perlu di lakukan selama hidupnya, karena kebersihan itu dapat menimbulkan adanya kesucian. Unsur-unsur pembersihan di dalam Upacara Manusa Yadnya dapat di ketahui dengan adanya upakara-upakara seperti tirtha panglukatan atau tirtha pembersihan dan lain sebagainya. Tirtha-tirtha ini adalah air suci yang telah di berkati oleh sang sulinggih pandita ( pendeta). Di dalam Manusa yadnya, pada dasarnya terdapat empat rangkaian upacara yang satu dengan yang lainnya tidak dapat di pisahkan. Adapun upacara-upacara teresbut antara lain adalah Upacara Mabhyakala ( Mabhyakaonan ), Upacara Melukat ( Mejaya-jaya ), Upacara Natab ( Ngayab ), dan Upacara Muspa. Masing-masing upacara ini mempunyai maksud dan tujuan-tujuan tertentu.

     



    Sedangkan untuk jenis-jenis Upacara Manusa Yadnya, di antaranya ada beberapa yang penting yaitu :
    1. Upacara Pagedong-gedongan ( Upacara Bayi dalam Kandungan )
    Upacara ini bertujuan memohon kehadapan Hyang Widhi agar bayi yang ada di dalam kandungan itu di berkahi kebersihan secara lahir bathin. Demikian pula ibu beserta bayinya ada dalam keadaan selamat dan dikemudian setelah lahir dan dewasa dapat berguna di masyarakat serta dapat memenuhi harapan orang tua. Di samping perlu adanya upacara semasih bayi ada di dalam kandungan, agar harapan tersebut dapat berhasil, maka si ibu yang sedang hamil perlu melakukan pantangan-pantangan terhadap perbuatan atau perkataan-perkataan yang kurang baik dan sebaliknya mendengarkan nasehat-nasehat serta membaca membaca buku-buku wiracarita atau buku lain yang mengandung pendidikan yang bersifat positif. Sebab tingkah laku dan kegemaran si ibu di waktu hamil akan mempengaruhi sifat si anak yangmasih di dalam kandungan.
    2. Upacara Bayi Lahir.
    Upacara ini merupakan cetusan rasa gembira dan terima kasih serta angayu Bagia atas kelahirannya si bayi kedunia dan mendoakan agar bayi tetap selamat serta sehat walafiat. Pada saat bayi lahir, yang perlu juga di perhatikan adalah upacara perawatan Ari-ari. Ari-ari ini di cuci dengan air bersih atau air kumkuman, kemudian di masukkan ke dalam sebutir kelapa yang di belah dua dengan Ongkara ( pada bagian atas ) dan Ahkara pada bagian bawah. Kelapa tersebut di bungkus dengan kain putih kemudian di pendam ( di tanam ) di muka pintu rumah ( yang laki di sebelah kanan dan yang perempuan di sebelah kiri ). Setelah di tanam pada bagian atasnya hendaknya di isi daun pandan yang berduri dengan tujuan untuk menolak gangguan dari kekuatan-kekuatan yang bersifat negatif.
    3. Upacara Kepus Puser.
    Upacara ini juga di sebut Upacara Mapanelahan. Setelah puser itu putus maka puser tersebut di bungkus dengan secarik kain, lalu di masukkan ke dalam sebuah tipat kukur yang di sertai dengan bumbu-bumbu dan kemudian tipat tersebut di gantungkan di atas tempat tidur si bayi. Mulai saat inilah si bayi di buatkan Kumara, yaitu tempat memuja Dewa Kumara sebagai pelindung anak-anak.
    4. Upacara Bayi berumur 42 hari.
    Upacara ini disebut juga upacara tutug kambuhan. Pada usia 42 hari bayi di buatkan upacara “ Macolongan “. Tujuannya adalah memohon pembersihan dari segala keletehan ( kekotoran dan noda ), terutama si ibu dan bayinya di beri tirtha pangklutan pabersihan, sehingga si ibu dapat memasuki tempat-tempat suci seperti Pura, Merajan dan sebagainya.
    5. Upacara Nyambutin.
    Upacara Nyambutin ini diadakan setelah bayi tersebut berumur 105 hari. Pada umur ini si bayi telah di anggap suatu permulaan untuk belajar duduk, sehingga di adakan upacara Nyambuitn di sertai dengan upacara “ Tuwun di pane “ dan mandi sebagai penyucia atas kelahirannya di dunia. Upacara ini bertujuan untuk memohon kehadapan Hyang Widhi agar jiwatman si bayi benar-benar kembali kepada raganya.
    6. Upacara Satu Oton.
    Upacara satu oton atau yang di sebut dengan Otonan ini di lakukan setelah bayi berumur 210 hari, dengan mempergunakan perhitungan pawukon. Upacara ini bertujuan agar segala keburukan dan kesalahan-kesalahan yang mungkin di bawa oleh si bayi dan semasa hidupnya terdahulu dapat di kurangi atau di tebus, sehingga kehidupan yang sekarang benar-benar merupakan kesempatan untuk memperbaiki serta meningkatkan diri untuk mencapai kehidupan yang sempurna. Serangkaian pula dengan Upacara Otonan ini adalah upacara pemotongan rambut yang pertama kali, yang bertujuan untuk membersihkan ubun-ubun ( Ciwa Dwara ). Pelaksanaan upacara satu oton ini juga di maksudkan untuk memohon kehadapan Ibu Pertiwi agar ikut mengasuh si bayi sehingga si bayi tidak mendapatkan kesulitan, selamat dan tumbuh dengan sempurna. Untuk ini di adakan pula upacara turun tanah yang di injakkan untuk pertama kalinya di beri gambar bedawang nala sebagai lambang dasar dunia, sedangkan si bayi di tutupi dengan sangkar yang di sebut sudamala.
    7. Upacara Meningkat Dewasa ( Munggah Daa ).
    Upacara ini bertujuan untuk memohon kehadapan Hyang Widhi agar yang bersangkutan di berikan petunjuk atau bimbingan secara gaib sehingga ia dapat mengendalikan diri dalam menghadapi masa pancaroba. Upacara ini pada umumnya di titikberatkan pada anak perempuan. Hal ini mungkin di sebabkan karena wanita di anggap kaum yang lemah serta lebih banyak menanggung akibat pertimbangan-pertimbangan. Di samping itu, menurut Hindu bahwa kaum wanita dapat di anggap sebagai barometer tingi rendah atau baik dan buruknya martabat dari suatu keluarga dan lain-lain.
    8. Upacara Potong Gigi.
    Upacara ini dapat di lakukan baik terhadap anak laki-laki maupun anak perempuan yang sudah menginjak dewasa. Dalam Upacara potong gigi ini, maka gigi yang di potong ada 6 buah, yaitu empat buah gigi atas dan dua buah lagi gigi taring atas. Secara rohaniah pemotongan terhadap ke enam gigi tersebut merupakan simbolis untuk mengurangi ke enam sifat Sad Ripu yang sering menyesatkan dam menjerumuskan manusia ke dalam penderitaan atau kesengsaraan. Sifat-sifat Sad Ripu yang di maksud adalah nafsu birahi, kemarahan, keserakahan, kemabukkan, kebingungan dan sifat iri hati. Tetapi secara lahiriah, pemotongan gigi itu dapat pula di anggap untuk memperoleh keindahan, kecantikan dan lain sebagainya. Pelaksanaan Upacara Potong gigi ini bertujuan, di samping agar yang bersangkutan kelak nanti setelah mati dapat bertemu dengan para leluhurnya dan bersatu dengan Hyang Widhi, juga agar yang bersangkutan selalu sukses dalam segala usaha, terhindar dari segala penyakit serta dapat mengendalikan diri dan mengusir kejahatan.

    b) Pitra Yadnya (kematian)
    Pitra yadnya adalah suatu upacara pemujaan dengan hati yang tulus ikhlas dan suci yang di tujukan kepada para Pitara dan roh-roh leluhur yang telah meninggal dunia. Pitra yadnya juga berarti penghormatan dan pemeliharaan atau pemberian sesuatu yang baik dan layak kepada ayah-bunda dan kepada orang-orang tua yang telah meninggal yang ada di lingkungan keluarga sebagai suatu kelanjutan rasa bakti seorang anak ( sentana ) terhadap leluhurnya. Pelaksanaan upacara Pitra Yadnya di pandang sangat penting, karena seorang anak ( sentana ) mempunyai hutang budi, bahkan dapat di katakana berhutang jiwa kepada leluhur. Ada beberapa upacara yang termasuk pelaksanaan Upacara Pitra Yadnya, yaitu Upacara Penguburan Mayat, Upacara Ngaben dan Nyekah.

    1. Upacara Penguburan Mayat.
    Upacara ini meliputi proses penguburan dari sejak upacara memandikan mayat, memendem ( menanam ) sampai pada upacara setelah mayat di tanam atau di pendem.


    a. Upacara Ngaben
          Upacara ini adalah penyelesaian terhadap jasmani orang yang telah meninggal. Upacara ngaben disebut pula upacara pelebon, hanya dapat dilakukan satu kali saja terhadap seseorang yang meninggal. Tujuannya adalah untuk mengembalikan unsur-unsur jasmani kepada asalnya yaitu Panca Maha Bhuta yang ada di Bhuana Agung. Jenis-jenis Upacara Ngaben adalah :
    v  Sawa Wedana, adalah pembakaran yang secara langsung di mana mayat orang meninggal langsung di bawa kekuburan ( setra ) untuk di bakar.
    v  Asti Wedana, adalah suatu upacara yang di lakukan setelah selesai upacara pembakaran mayat, kemudian tulang-tulang yang telah menjadi abu di hanyut ke laut atau ke sebuah sungai yang bermuara ke laut.
    v  Swasta Wedana, adalah suatu upacara pembakaran atas mayat yang tidak lagi dapat di ketemukan, sehingga mayat tersebut dapat di wujudkan dengan kuasa ( lalangan ), air dan lain-lainnya.
    v  Ngelungah, adalah upacara pembakaran mayat yang masih kanak-kanak atau yang belum tanggal gigi.
    v  Atma Wedana, adalah upacara pengembalian atma dari alam Pitara ke alam Hyang Widhi. Upacara ini di sebut juga dengan “ Upacara Nyekah “, yang bertujuan untuk meningkatkan kesucian dan kesempurnaan atma orang yang meninggal agar dapat kembali ke asalnya.


    LAMPIRAN

       





    1 komentar:

    1. kawan, Yuk kita ikut lomba 10 kategori lomba khusus bagi mahasiswa Universitas Gunadarma. Edisi
      Desember2012 ini diperuntukan bagi mahasiswa S1 dan D3. Tersedia 100 pemenang, atau 10 pemenang
      untuk setiap kategori. link
      http://studentsite.gunadarma.ac.id/news/news.php?stateid=shownews&idn=755

      kalian nggak mau ketinggalan kan untuk update terhadap berita studentsite dan baak , maka dari itu, yuk pasang RSS di Studentsite kalian.. untuk info lebih lanjut bagaimana cara memasang RSS , silahkan kunjungi link ini
      http://hanum.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/folder/0.5

      makasi :)

      BalasHapus